Kamis, 22 April 2010

Pengamen Kecil

Apk Download - Seminggu, dua minggu, dan hampir sebulan tak kutemui lagi pengamen kecil dalam bis yang selalu kutumpangi tiap pagi. Setiap kali bis berhenti di halte Cakung, naiklah dia, seorang pengamen kecil dengan wajah yang kucel dan lugu. Memakai kaos murahan bergambar Iwan Fals dan di tangan pengamen itu tergenggam gitar kecil yang pudar warna catnya.

Gambar Lucu - "Ah kenapa aku harus merindukan pengamen itu? Bukankah dia seorang pengamen biasa ? Sedang di sekitar jurusan Pulo Gadung sampai Cikarang banyak pengamen-pengamen yang bernyanyi seperti dia di dalam bis". Bergelayut banyak pertanyaan membuka kenangan tentang dia. Namun tak banyak jawab yang kutemui dalam raungan bising mesin bis dan di antara berjubelnya penumpang bis. Rasanya kuharus menikmati sendiri pertanyaan itu pada laju bis yang mulai masuk pintu tol menuju Bekasi.

"Selamat Pagi Dunia...Selamat Pagi Dunia....Apakah sobat-sobat merindukan nyanyian anak Iwan Fals."
"Anak Iwan Fals dari Hongkong!?" Sahutku lantang menimpali ketika pertama kali mendengar sapaan lucu dari nya.

Ternyata sahutku pada dia menjadi perekat hubunganku pada dia. Pengamen kecil itu hanya tertawa kecil saat kukomentarin begitu dan dia hanya bilang, makasih om. Ah mendengar kata "Om" dari dia. Kenapa bukan "bang" atau "pak". Tak sempat aku mengomentarin dia saat panggil "om" pengamen itu sudah bernyanyi dengan lengking serasa ingin meredam deru mesin bis.

Menyanyi lagu anak-anak dengan suaranya yang lucu dan cadel. Lagu anak-anak yang pernah kudengar waktu aku kecil. Semua lagu anak-anak yang dia hafal dia nyanyikan diiringin genjreng-genjreng gitar yang tak sesuai nadanya. Naik..Naik..ke puncak gunung. Tinggi-tinggi sekali...". Bila sudah begitu kadang aku lirih mengikuti nyanyiannya. Tak terasa laju bis sudah memasuki pintu tol timur Bekasi. Pengamen itu terus menyanyi dan bernyanyi dengan lagu anak-anak.

Pada lampu merah perempatan Bulak Kapal dia berhenti bernyanyi. Barangkali ingin meniru mbah Surip, dia senantiasa mengakhiri ngamennya dengan berkata : "I Love You Full buat Mbah Surip dan Para Penumpang bis jurusan Pulo Gadung-Cikarang". Penonton hanya tersenyum dengan ulah kelucuan yang ditampilkan pengamen kecil itu, bahkan seorang wanita terpaksa sampai menahan tawanya karena itu.

Sesudah itu dia merogoh kantong celana belakangnya. Mengeluarkan sebuah bungkus permen. Dengan tersenyum polos dia berjalan pelan-pelan di antara kerumunan penumpang yang berdiri dan yang duduk sambil menyodorkan kantung permen. Receh demi receh diberikan oleh penumpang.

Sampailah dia pada tempat dudukku. Entah mengapa? sepertinya aku tak mau memberi dia uang receh. Biasanya selembar ribuan kumasukkan pada kantong permennya dan kadang entah terlupa atau memang rezeki pengamen kecil itu, selembar lima ribuan kumasukkan dalam kantong permennya. Setelah itu dia tersenyum dan dengan kata khasnya . "Terima kasih, Om?" lalu dia berdiri dekat tempat dudukku.

Di halte Tambun depan pabrik otomotif dia turun. Sambil pamit, "Om saya mau turun di sini."

Pengamen itu melambai-lambaikan tangan pada bis yang telah menurunkannya. Sekilas kulihat kondektur di pintu depan menyilangkan jari telunjuknya di dahi buatnya. Pengamen hanya tertawa terkekeh digoda oleh kondektur itu sambil melambaikan tangan.

"Pengamen gila tapi lucu dan menggemaskan. Hahaha...." sahut si sopir bis dengan logat kental dari suku tertentu.

"Pengamen yang unik dan menarik sepertinya menyimpan keinginan besar" pikirku setelah memandang wajahnya dari balik kaca jendela bis.

*********************

"Pasar Cibitung...Pasar Cibitung...!!!!" aku terkaget oleh teriakan pak Kondektur. Terbangun sebentar untuk menyadari bahwa aku telah sampai di tujuan. Ternyata aku telah terhanyut pada bayangan tentang pengamen kecil itu.Segera aku turun dari bis dan menuju ke Pasar Cibitung, tempatku bekerja.

"Di mana kau pengamen kecil? Semoga kau baik-baik saja." sebentar kupandang bis itu melaju kembali. Bis yang telah meruangkan kerinduanku pada penamen kecil hingga aku menghadirkan kembali bayangan tentang dia lalu kulajukan bayangku bersamanya. "Ah pengamen kecil. Semoga kita bisa berjumpa lagi."

"Koran...Koran...Om. koran Om. Ada Pembunuhan Mutilasi lagi Om," sejenak aku agak kaget ketika mendengar suara kecil memanggilku "Om". Tukang koran kecil itu menawarkan sebuah koran murahan kepadaku. Sejenak Kupandang wajah tukang koran itu yang masih belia. Tak mirip dengan pengamen kecil itu.

"Mutilasi...Ada-ada aza. Paling-paling berita ngeseks dan iklan barang bekas dalam koran murahan itu."

Aku hanya tersenyum dengan kata polos anak itu. Dua lembar ribuan kuberikan kepada anak itu untuk harga koran murahan.

"Ah koran tak bermutu begini sekali buka dan baca. Habis ini dilempar saja ke tong sampah," pikirku. Barangkali keputusan ku untuk beli karena tukang koran tadi bilang "Om" kepadaku juga karena iba pada dia.

Koran itu hanya kumasukkan ke tas kerjaku. Tak biasanya bagiku pagi-pagi baca koran, karena harus siap-siap mengerjakan tugas dari pagi hingga tengah hari nanti. Pikirku daripada membaca koran lebih baik aku ngopisu, ngobrol, atau nonton televisi di tengah istirahatku. Tapi kenapa ? Godaan untuk membaca koran itu terasa keluar dari otak ini hingga menggerakkan tangan untuk mengambil koran murahan dari dalam tas. Lalu mencari tempat duuk yang enak di sebuah warung dan membaca koran itu?

"Bu kopi susu," pesanku pada ibu penjual kopi di warung.

"Ah. Ya Allah. Tuhanku...." bergetar tangan, tubuh dan dada ini berdesir saat melihat gambar di halaman pertama koran murahan itu.

Gambar sebuah wajah yang ada dalam ingatanku. Dengan kepala terputus. Potongan kedua tangan, kaki, dan badannya yang telanjang dengan bagian anusnya telah terdapat bercak darah mengering. Rupanya setelah disodomi oleh Babe X dia dimutilasi juga, demikian berita dalam koran itu.

Aku ingin muntah melihat gambar itu. tapi itu wajah dan badan pengamen kecil yang telah kurindukan. Aku harus melihat wajah pengamen kecil itu terakhir kali. Aku beranjak pergi dari warung itu. Tak hiraukan teriakan ibu penjual kopi bila kopi sudah siap.

Aku berlari menyeberangi keramaian jalan. Aku menunggu bis jurusan Cikarang - Pulo Gadung datang. Dunia rupanya lupa memberikan selamat buatmu. Aku ingin mengucapkan "Selamat jalan Pengamen kecilku..."


Surya Raya, 13 April 2010.

Fitrah Anugerah. Lahir di Surabaya, 28 Oktober 1974. Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia, FIB, Universitas Airlangga Surabaya. Pernah berkesenian di Teater Gapus Unair, dan Bengkel Muda surabaya. Puisinya dimuat di harian Surabaya Post, Sinar Harapan, Bekasi News, dan aktif menulis di Apresiasi satra serta Blog. Sekarang bekerja di Bekasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar